Tentang Firdaus

Surga tidak terbatas oleh narasi
Lebih jauh
Firdaus hadir lewat persepsi
Yang kaya isi
Melebihi langit dan bumi

Di tiap titik imaji
Lebih dekat
Dengan yang tersirat
Punya esensi abadi
Yang diterima, dan dibutuhkan tiap pribadi

Sampai di sana
Untuk semua yang dijanjikan
Nestapa adalah ketiadaan
Segalanya ditenangkan

Fase

Lama sudah tidak menuangkan gundahnya hati dan pikiran.

Di sini biasanya selalu dalam bentuk tulisan.
Tanpa foto atau gambar tangan.

Biasanya dulu, beberapa malam pernah saya tulis jurnal berturut – turut.

Tidak tahu kemana energinya pergi, tidak seperti dulu. Dulu juga sama, cuma buang – buang energi.

Bangun.
Mandi.
Pergi.
Makan.
Main.
Pulang.
Lagi.

 

Apa mungkin saat ini saya belum bisa bagi energi?
Bersama saya sudah ada  seorang istri yang selalu ada dan siap menemani.
Segera sesaat lagi akan hadir seorang buah hati, yang kebutuhannya harus siap saya penuhi.

Apakah di rute ini saya tidak bisa berhenti pada titik peristirahatan? Untuk sekedar berkabar dan memimpikan hal besar.

Apakah di fase ini otak saya tidak lagi menerima ajakan pelarian dan memilih mencari solusi terukur yang kadang pula tak pasti?

Jurnal di sini bukan ratapan, namun renungan.
Bukan tempat berkeluh karena bersimbah peluh.

Jurnal saat ini, yang ini, benar-benar yang ini, gaya saya menulis sudah berubah. Tidak tahu kenapa. Apakah ini kedewasaan?

Saya, menjadi tidak bisa lepas dari penjara aturan yang fana bahkan terbuat atas pikiran sendiri.

Buat saya sendiri, diri saya menjadi tidak menyenangkan. Mungkin kalau bisa bertemu dengan saya yang menulis jurnal – jurnal di tahun-tahun sebelumnya, saya bisa menjadi orang yang sangat berbeda.

Am I going down the stairs of evolution? 

Am I losing myself?

Turns

Sometimes I thought about the turns I have made in my life. So far. Hundreds. Thousand. Millions.

The turns on every corner and every crossing. Am I on the right track?

Am I lost?

Am I getting further,

or closer?

Every time I made those decisions, each time I regret them, or be grateful for them it could drive me towards the end.

But what kind of end? The ones that I was always hoping, or the ones I always try to avoid?

About how I make myself onto this stage.

so, is the rule of acceptance apply vice versa?

do God accept us if only we accept him?

God made the rule, that we have to obey Him.

So when we seek acceptance from Him, we have to accept Him first.

 

or is it?

Are we spreading the love?

We let people know that we are happy without making others feeling the same way. We posted our pictures of great things we’re having and we had. Make others drool, and get carried away. I don’t know. We don’t know very much if it’s true or fake images just to impress people that follows you. People don’t accept the fact, instead they’re finding new reason to justify what they think is right and carry a lot of benefits only for them.
This rule apply in advertising formula. Opinion is made based on the facts that people hate to admit. Insight. Humans have so many things that they won’t admit and accept the way they are. And to make them admit it, we need to pick someone or something, that big enough, to be the opinion leader and then saying the bitter truth everyone’s too shame to admit. Making the facts looked like an opinion but then turn again into a fact. Yes. Confusing.

This era is something. You could make up some words or blab out anything that hardly even exist, but then everyone could just believe it. Wow. The power of image.

Heading back to spreading happiness. Do you ever feel sad when people around you not feeling well? Or perhaps you’re feeling great when others down?
Have we ever help out the one, only one, in need? Or maybe even think about it?
Exposing and spreading. There’s a slight difference. I feel like we need to be careful. Cause exposing happiness can lead to something we might not want.
Most of the time it doesn’t help human race to reach happiness. Instead, it cause more damage of jealousy and hate.
I feel like I need to take a step back. Sometimes I hate myself for the things I had done.

Wabah

Jadi saya habis dari pusat belanja elektronik di Bandung, yang inisialnya BEC.
Pas pulang, di portal parkir kan saya harus bayar tuh, nominal yang keluar Rp 4500. Saya kasih uang saya Rp 10.000. Lalu si mbak penjaga bertanya, “ada uang pas?” saya jawab ga ada. Kemudian dia kasih saya uang Rp 5000. Sepuluh detik kemudian saya tunggu dan si mbak tidak kunjung memberi Rp 500 hak kembali saya.

“Mbak, 500 lagi mana?”
Malah dia nanya lagi “ada uang pas?”
kan saya bilang tadi juga ga ada.
“iya ga ada kembalian”, sambil dia angkat-angkat ubek-ubek dan nanya ke pos sebelahnya ada kembalian enggak, sama juga ga ada.
terus gimana?
“ya gatau ini juga udah capek, daritadi juga modal berapa…”

WTF

Mana saya tau dan harus saya peduli? ya kalo capek mah jangan bilang ke saya(?) ditambah saya ga ngerti maksudnya dia ngomong ‘daritadi modal berapa’. Dia dua kali bilang itu modal modal (mo ngajakin bisnis kali ya dia ngomongin modal). “ya saya gatau, itu kan urusan manajemen parkirnya mbak”, mau ditawari kembali diganti permen? atau saya nambah aja parkirnya sejam lagi kali ya biar pas. Etika yang betul bagaimana sih? Pembeli harus selalu sedia uang pas? Atau gimana ya. Saya parkirin aja dulu di depan pintu keluar parkir untuk jalan ke luar mencari uang pas ya? Menghalangi orang lain yang bakal keluar juga. Harusnya manajemen parkir lebih siap dengan kembalian karena mereka udah tau kemungkinan-kemungkinan jumlah biaya parkir tiap kendaraan yang keluar dong. Saya udah hitung kemungkinan biaya parkir yang harus saya bayar, tapi di dompet saya ga ada uang sepas itu. Harus saya jajan dulu? tukar dulu? Enlighten me please.

Pada akhirnya si mbak handled me koin Rp 1000. But then I just smiled and went away. Saya sudah kesal, dan saya ga mau ambil Rp 500 yang bukan hak saya jika saya mengambil Rp 1000 dari si mbak. Did I do wrong?